Oleh : Winda Risnawati, S.Pd
Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan. Perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan . Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, yakni dalam upaya meningkatkan proses belajar, guru harus berupaya menciptakan strategi yang sesuai dengan pembelajaran, sebab dalam proses belajar mengajar yang bermakna, keterlibatan siswa sangatlah penting, seperti halnya pada pembelajaran fisika.
Penulis sebagai guru mata Pelajaran Fisika kelas XI SMA (Fase E) bertanggungjawab untuk memberikan pembelajaran yang interaktif, menyenangkan (joyful) dan berpihak pada peserta didik (student centered) sehingga peserta didik mengalami pembelajaran yang lebih bermakna (meaningful) sesuai dengan prinsip pembelajaran mendalam. Pembelajaran fisika juga tidak dapat dipahami oleh peserta didik jika hanya mengandalkan teoritis saja karena pembelajaran fisika berhubungan dengan peristiwa sehari-hari manusia sehingga membutuhkan praktik nyata dan media interaktif agar peserta didik dapat berpikir kritis dan meningkatkan kemampuan numerasi.
Kemampuan numerasi merupakan kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari hari pada berbagai jenis konteks yang relevan. Berdasarkan hasil rapor Pendidikan SMA Negeri 5 Pematangsiantar pada tahun 2024 kemampuan numerasi di SMA Negeri 5 Pematangsiantar adalah 55,56%. Hasil rapor Pendidikan ini tergolong ke dalam kategori “sedang” yang membuat penulis ingin meningkatkan kemampuan numerasi yang lebih baik.
Penulis melakukan observasi dan wawancara kepada peserta didik yang kemudian juga menjadi latar belakang masalah dalam praktik pembelajaran ini, yaitu:
1. Kurangnya minat peserta didik dalam pembelajaran fisika karena menganggap fisika itu sulit dan membosankan
2. Hasil pembelajaran fisika yang masih rendah, terlihat pada hasil asesmen formatif dan sumatif peserta didik. Hal ini dikarenakan peserta didik kurang memahami materi dan kurang mampu menerapkan konsep fisika dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pembelajaran fisika yang masih berpusat pada guru (teacher centered) dan cenderung pembelajaran konvensional
4. Kemampuan memanfaatkan teknologi yang masih kurang dalam pembelajaran sehingga pembelajaran lebih monoton dan kurang bervariasi Berdasarkan permasalahan tersebut penulis ingin berupaya meningkatkan
kemampuan numerasi dengan melakukan perubahan dalam proses pembelajaran mendalam. Proses pembelajaran mendalam dilakukan dengan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi berbantuan multimedia pembelajaran interaktif (MPI), diharapkan dapat meningkatkan kemampuan numerasi peserta didik yang
kemudian berdampak pada peningkatan hasil belajar fisika.
Penulis dalam praktik ini berperan dalam persiapan hingga pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi, melakukan refleksi, dan berbagi praktik baik pada rekan sejawat sehingga lebih berdampak pada lingkungan sekolah dan semakin banyak penulis yang melakukan perubahan dalam proses pembelajaran sesuai dengan yang peserta didik butuhkan.
Tantangan
Dalam melakukan praktik pembelajaran berdiferensiasi ini, penulis mengalami beberapa tantangan yaitu:
1. Menyiapkan rencana pembelajaran dengan baik
2. Menyiapkan sumber belajar dan media pembelajaran interaktif yang menyenangkan
3. Ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung
4. Membangun komunikasi yang positif dengan rekan sejawat dan kepala sekolah
Berdasarkan tantangan diatas, penulis melakukan kolaborasi dengan Kepala Sekolah, Guru BK dan rekan guru yang masuk di kelas yang saya ampu untuk
mendapatkan informasi akurat terkait peserta didik dan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi.
Aksi
Berdasarkan masalah yang dihadapi penulis, maka penulis berupaya melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran mendalam serta membuat langkah-langkah strategis dalam pendekatan pembelajaran berdiferensiasi untuk meningkatkan kemampuan numerasi peserta didik sehingga pembelajaran lebih bermakna.
Langkah-langkah pembelajaran yang dibuat penulis disingkat dalam akronim PIJAR MiMPI. Penjelasan akronim PIJAR MiMPI adalah sebagai berikut: – PIJAR : Pembelajaran Interaktif, Joyful, dan Bermakna – Mi : melalui
– MPI : Multimedia Pembelajaran Interaktif
Pembelajaran interaktif, joyful dan bermakna (meaningful) merupakan pembelajaran yang memfasilitasi minat dan potensi peserta didik dengan sumber belajar dan media belajar yang menarik dan dibutuhkan peserta didik. Pembelajaran yang dilakukan dengan mengintegrasikan penggunaan teknologi seperti akun belajar id, dan fitur google classroom yang ditautkan dengan multimedia pembelajaran interaktif (MPI). Dalam pembelajaran bermakna (meaningful learning) peserta didik tidak hanya mengingat teori namun peserta didik juga memahami konsep materi baru serta mampu mengaitkan materi dengan pengalaman nyata dalam kehidupan di lingkungan sekitar.
Pembelajaran bermakna melibatkan kemampuan penalaran, berpikir kritis serta kemampuan pemecahan masalah sehingga peserta didik dapat menghubungkan konsep materi baru dengan materi sebelumnya. Penulis dalam hal ini berperan sebagai fasilitator yang membimbing peserta didik untuk menemukan makna dan keterkaitan pada setiap materi pelajaran. Pembelajaran yang dilakukan dengan melibatkan peserta didik (student centered) secara aktif dalam kegiatan pembelajaran seperti diskusi, penggunaan multimedia pembelajaran interaktif secara langsung, pemecahan masalah serta merancang proyek.
Penulis melakukan persiapan pembelajaran seperti menyiapkan rencana pembelajaran mendalam (RPM) dan pembuatan multimedia pembelajaran interaktif (MPI). Langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam pembelajaran berdiferensiasi untuk mewujudkan pembelajaran interaktif, joyful dan bermakna
(meaningful) melalui multimedia pembelajaran interaktif (PIJAR MiMPI) di kelas XI fase E pada materi Jarak dan Perpindahan yaitu sebagai berikut: 1) Melakukan asesmen awal (diagnostic kognitif dan non kognitif) Penulis melakukan asesmen awal pembelajaran berupa asesmen non kognitif pada peserta didik. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik sebelum melakukan kegiatan pembelajaran.
Asesmen non kognitif dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui minat dan gaya belajar peserta didik. Penulis menyebarkan kuisioner berupa 15 soal melalui google form. Dari hasil analisis yang diperoleh 54% peserta didik memiliki gaya belajar visual, 21% peserta didik memiliki gaya belajar audiotori dan 25% peserta didik memiliki gaya belajar kinestetik. Berdasarkan data yang diperoleh hasil asesmen awal pembelajaran, penulis melakukan pengelompokan peserta didik berdasarkan gaya belajar untuk mempermudah pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi.
2) Pendalaman konsep/materi
Peserta didik melakukan kegiatan pendalaman konsep yang difasilitasi dengan sumber belajar seperti buku teks dan media belajar yang interaktif seperti yang dibuat oleh penulis yakni PIJAR MiMPI. Dalam media interaktif ini sudah mencakup semua yang dibutuhkan dalam pembelajaran, terdapat penjelasan konsep materi, lembar kerja peserta didik (LKPD), Quis untuk latihan soal dan asesmen formatif untuk menguji pemahaman peserta didik. Dalam hal ini peserta didik memahami konsep secara mandiri dan berkelompok.
3) Diskusi kelompok
Peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan diskusi pemahaman yang telah didapatkan dari kegiatan sebelumnya. Peserta didik diajak untuk mengkontruksi pengetahuannya dalam konteks yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Peserta didik diarahkan untuk menyelesaikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang disesuaikan dengan minat dan gaya belajar masing masing. Hal ini bertujuan agar memaksimalkan potensi peserta didik secara berkelompok yang memiliki kesamaan sehingga pembelajaran lebih menyenangkan, nyaman dan peserta didik lebih efektif untuk saling bertukar informasi.
4) Presentasi
Dalam tahapan ini, penulis mendorong peserta didik untuk menyampaikan hasil diskusi yang telah dilakukan sesuai dengan gaya belajar peserta didik. Peserta didik mempresentasikan konsep atau ide dengan pengalaman masing-masing yang membuat pembelajaran lebih relevan.
Melalui kegiatan presentasi, penulis juga memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan atau tanggapan yang merangsang kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah. Hal ini bertujuan agar peserta didik akan lebih memahami dan mengingat materi dengan baik.
5) Asesmen Formatif
Pada akhir pembelajaran, penulis mengajak peserta didik untuk melakukan asesmen formatif bertujuan untuk menguji pemahaman konsep, mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran serta memperbaiki kemampuan numerasi. Penulis memberikan 10 soal pilihan ganda melalui media asesmen digital Wayground. Dengan menggunakan Wayground, peserta didik melakukan asesmen dengan tampilan seperti game yang seru dan menyenangkan.
Hasil/Refleksi
Pembelajaran berdiferensiasi yang penulis lakukan memiliki beberapa dampak positif, yaitu sebagai berikut:
1. Diferensiasi konten membuat pembelajaran lebih seru dan menyenangkan bagi peserta didik karena dalam pembelajaran menggunakan sumber dan media belajar yang interaktif
2. Diferensiasi proses membuat peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang lebih bermakna karena kegiatan pembelajaran dilakukan sesuai dengan minat dan gaya belajar masing-masing peserta didik
3. Diferensiasi produk yang dihasilkan lebih bervariasi dan berhasil mengembangkan ide dan potensi peserta didik
4. Dari hasil refleksi peserta didik, peserta didik sangat senang dengan pembelajaran berdiferensiasi yang telah dilakukan, karena mereka bisa belajar sesuai dengan minat dan gaya belajar mereka
5. Dari hasil refleksi rekan sejawat, kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh penulis cukup menarik, seru, membuat inovasi baru dan tidak monoton, sehingga menimbulkan keinginan belajar dan menyenangkan bagi peserta didik
6. Berdasarkan hasil refleksi pribadi yang dilakukan oleh penulis, penulis merasa senang dan bahagia karena tujuan pembelajaran yang direncanakan telah tercapai yaitu memenuhi kebutuhan peserta didik melalui pembelajaran berdiferensiasi dan respon rekan sejawat sangat positif mendukung pembelajaran yang saya lakukan.
Penutup
Kegiatan asesmen awal pembelajaran sangat penting dilakukan untuk mengetahui kebutuhan belajar sesuai dengan minat dan gaya belajar peserta didik. Dengan mengetahui kebutuhan belajar tersebut, penulis dapat menentukan rencana pembelajaran mendalam yang sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Untuk memperoleh data non kognitif peserta didik, penulis menyebar kuisioner dan bekerjasam dengan guru BK agar data yang diperoleh lebih menyeluruh. Dalam pengelompokkan peserta didik, penulis tidak hanya memperhatikan dari hasil
asesmen awal saja melainkan juga tigkat heterogenitas, seperti tingkat kemampuan awal, jenis kelamin dan gaya belajar peserta didik.
Media pembelajaran yang interaktif dan disesuaikan dengan perkembangan zaman juga mendukung kegiatan pembelajaran yang lebih bervariasi dan menyenangkan. Peserta didik diberikan media pembelajaran interaktif yang sudah mencakup hampir semua komponen, yakni materi pembelajaran, lembar kerja peserta didik (LKPD), Quis dan Asesmen yang bisa diakses melalui handphone peserta didik.
Fasilitas yang mendukung juga turut berperan besar dalam memperbaiki kemampuan numerasi peserta didik. Dalam hal ini fasilitas yang diberdayakan adalah handphone masing-masing peserta didik dan memastikan memiliki jaringan internet yang stabil.
Membangun komunikasi yang positif dengan Kepala Sekolah dan rekan sejawat penting dilakukan untuk saling berkolaborasi dalam memperbaiki kemampuan numerasi di sekolah.
Refleksi dalam pembelajaran juga tidak kalah penting dilakukan dengan konsisten agar penulis senantiasa mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan numerasi yang dilakukan. Perbaikan kemampuan numerasi yang dilakukan penulis telah mengalami peningkatan dari tahun 2024 ke tahun 2025 yakni 75,56%. Kemampuan numerasi yang baik akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas dan memiliki kemampuan bernalar kritis.
Daftar Pustaka
Pratama, M.P., & Hasanah, F.N. (2024). Pengaruh Media Pembelajaran Interaktif terhadap Minat Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA SD. JUrnal Ilmiah Pendidikan IPA, 6(1) : 311-319
Faiz, A., Pratama, A., & Kurniawaty, I. (2019). Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Program Guru Penggerak pada Modul 2.1. Jurnal Basicedu, 6(2) : 2846-2853 Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Pitaloka, H., & Arsanti, M. (2022). Pembelajaran Diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka. Prosiding Seminar Nasional Sultan Agung, ISBN: 978-623-6264-07-2
Rahmandani, F., Hamzah, M. R., Handayani, T., & Kurniawan, M. W. (2025). Integrasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam Mewujudkan Pembelajaran yang Bermutu dan Bermakna bagi Peserta Didik. Jurnal Sosial Humaniora Dan Pendidikan, 4(3), 769–781.
Raup, A., Ridwan, W., Khoeriyah, Y., Supiana, & Zaqiah, Q. Y. (2022). Deep Learning dan Penerapannya dalam Pembelajaran. JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(9), 3258–3267.













