STREAMS  ANTI-MAINSTREAM

Oleh

tim editor

Oleh : Mahniar Sinaga, M.Pd.

SD Negeri 068008 Medan

Indonesia dihadapkan pada perkembangan teknologi yang begitu pesat sehingga mengalami tantangan kehidupan yang begitu kompleks dan dinamis. Pemahaman konsep society 5.0 menjadi representasi transformasi masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik, dimana teknologi digunakan secara cerdas untuk menjadikan masyarakat cadas dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup.

            Bagi negara yang berkembang, perkembangan teknologi memberikan dampak positif seperti pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat. Namun, sisi negatifnya adalah terjadinya pengangguran, sebab peran manusia digantikan oleh teknologi. Selain itu, kemajuan teknologi mampu membunuh karakter bangsa yang ditandai dengan mendominasinya sikap individualis generasi z yang disebabkan penggunaan teknologi yang sangat membantu kerja mereka. Mereka lebih sering berinteraksi dengan teknologi dari pada manusia.  Menurut Fadilah,dkk (2024) dalam penelitiannya berjudul “Pengaruh Kemajuan Teknologi terhadap Pemahaman Nilai Pancasila di Era Gen Z” menjelaskan bahwa terjadinya kemerosotan moral atau karakter bangsa disebabkan pengaruh negatif kemajuan teknologi dan arus globalisasi. Menurut Darmanto J.T dan Sudharsono PH (1986) Pendidikan karakter menjadi krusial dalam membentuk individu yang memiliki kompetensi adaptif, memiliki nilai-nilai luhur, dan mampu berkontribusi positif dalam masyarakat.

            Dunia pendidikan adalah penanggung jawab paling besar dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang adaptif dan berkarakter sesuai zamannya. Untuk mampu menjalani kehidupan di era society 5.0, maka beberapa kebijakan pendidikan penting untuk ditanamkan kepada orang yang terlibat didalamnya. Sebut saja adanya perubahan kurikulum. Kurikulum Merdeka Belajar menjadi  pijakan utama mengubah paradigma guru dalam mempersiapkan masa depan generasi bangsa pada era society 5.0 ini. Guru mafhum terhadap perubahan kurikulum sebab murid yang mereka hadapi adalah generasi zilenial yang tumbuh kembangnya dihadapkan dengan era teknologi digitalisasi. Maka dari itu, pemerintah perlu mengubah paradigma guru dalam mendidik. Contohnya, bagaimana guru yang semestinya mengajar konvensional secara signifikan harus beradaptasi  dengan teknologi. Dan bagaimana pula dengan pemanfaatan teknologi dalam pemelajaran tidak menggerus suatu karakter murid maupun guru.

Komitmen, mandiri dan refleksi yang menjadi roh dalam implementasi kurikulum merdeka  menjadikan pendidik cepat beradaptasi dengan sebuah perubahan . Sosok guru era society 5.0 adalah pemimpin pembelajaran yang  mampu mengakomodir kebutuhan belajar murid sehingga murid memiliki kompetensi. Kompetensi yang dimaksud adalah kemampuan 6 literasi dasar dan kecakapan abad 21 yang terurai dalam 6 C; yakni character (karakter—yang tercermin dalam profil pelajar pancasila  seperti religius, rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, mudah beradaptasi memiliki jiwa kepemimpinan, memiliki kepedulian sosial dan budaya), citizenship (kewarganegaraan), critical thinking (berpikirkritis), creativity (kreatif), collaboration (kolaborasi),dan communication (komunikasi). Kompetensi literasi dan kecakapan abad 21 inilah yang menjadi modal utama  dalam mewujdudkan masa depan murid gemilang sesuai tuntutan perkembangan zamannya. Pada hakikatnya tujuan utama pendidikan adalah membentuk kepribadian manusia yang utuh dan berkarakter.

            Bagaimanakah praktik pembelajaran yang mampu mempertajam kompetensi literasi dan kecakapan abad 21 sekaligus? STREAMS (Science, Technology, Religion, Engineering, Mathematics, and Social) merupakan pendekatan pembelajaran yang menuntut murid aktif, kreatif, kolaboratif,  inovatif dan  berpikir kritis, serta bermakna dalam proses belajar baik di sekolah maupun di rumah. Pada studi literatur  dari penelitian:  Perignat & Katz-Buonincontro (2019) bahwa pendekatan STEAM bagian dari memfasilitasi proses berpikir kritis, penyelesaian masalah, dapat membantu mempertahankan minat murid dalam kelas melalui pelajaran yang interaktif, membangkitkan semangat, dan memunculkan ketertarikan murid dalam pelajaran. Dari hasil penelitian Agustina et al. (2017) menjelaskan bahwa unsur “Religi” apabila diintegrasikan dalam pendekatan belajar  STEAM  akan melengkapi 5 pilar pendidikan di Indonesia,  yaitu  learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together in peace, dan belajar untuk memperkuat keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia. Sementara itu, dalam kurikulum merdeka, mata pelajaran IPAS merupakan gabungan dari sains dan sosial. Sehingga saya menyimpulkan bahwa dari hasil pemikiran penelitian di atas, alangkah baiknya mendesain pembelajaran yang menggabungkan semua nilai-nilai mata pelajaran menjadi satu kesatuan yang utuh yang membantu kerja guru melakukan asesmen non akademik maupun akademik. Kemudian untuk memahamkan murid bahwa setiap ilmu saling terkait  antara bidang yang satu dengan bidang lainnya. Selain itu juga,  bagaimana pembelajaran yang menuntut murid mencapai dua kompetensi sekaligus (literasi dan kecakapan abad 21) menjadi proses belajar yang menyenangkan baginya (satu sintak pembelajaran mampu menjawab semua capaian kompetensi mata pelajaran). Dari ulasan inilah perlu dirancang sebuah bahan pembelajaran dengan pendekatan STREAMS yang Anti-Mainstream.

            Praktik pembelajaran yang memberikan petunjuk kepada murid dalam meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya  salah satunya dengan mendesain sebuah  perangkat ajar yang disebut LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). LKPD merupakan salah satu bahan pembelajaran dalam satuan pendidikan yang digunakan pendidik untuk meningkatkan antusias atau minat belajar murid. LKPD yang didesain dengan pendekatan interdisipliner untuk mempelajari berbagai konsep akademik yang disandingkan dengan dunia nyata  dengan menerapkan prinsip-prinsip sains, matematika, rekayasa dan teknologi serta menambahkan unsur religi dan sosial memungkinkan murid mempelajari dan memecahkan masalah yang mereka hadapi di masa depan dan memperoleh pengetahuan dengan cara yang lebih holistik dan terorganisir  atau disebut dengan murid yang memiliki kecakapan abad 21.

Seperti apakah rancangan sebuah LKPD melalui pendekatan STREAMS yang digadangi menjadi pembelajaran Anti-Mainstream?

  1. Pendidik mengidentifikasi kompetensi mata pelajaran yang bisa diintegrasikan dalam pembelajaran pendekatan STREAMS.
  2. Pendidik merancang sebuah LKPD dengan sintak:
  1. S (Science), murid digiring melakukan literasi sains (kompetensi literasi )yang kontennya dikaitkan dengan kompetensi muatan pelajaran lainnya.
  2. T (Technology), murid digiring berpikir kritis (kecakapan abad 21) bahwa mereka bisa menemukan dan membuat  hal baru/sesuatu (berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai)  hingga menyiapkan peralatan yang dibutuhkan (termuat dalam LKPD)  dan menggunakan peralatan tersebut  dalam membuat/menyelesaikan projeknya.
  3. R (Religion), murid digiring untuk mampu mengintegrasikan nilai-nilai agama pada setiap mata pelajaran  sebagai upaya menanamkan nilai -nilai karakter. 
  4. E (Engineering), murid berproses merancang atau mendesain projeknya dengan waktu yang ditentukan. Pada bagian proses ini, nilai kreativitas murid sangat dominan.
  5. A (Art), murid  berliterasi seni dan budaya yang berhubungan dengan projek yang sedang dikerjakannya.
  6. M (Mathematic), murid digiring melakukan numerasi terkait projek yang sedang dikerjakannya/ menyajikan data yang ditemukannya ketika sedang melakukan proses (engineering) di lapangan.
  7. S (Social), murid didorong melakukan literasi sosial yang memuat konten PPKN dan atau IPS. Keterkaitan terhadap satu disiplin ilmu mampu menjawab ketidaktahuannya terhadap ilmu lainnya.

3. Guru mempersiapkan asesmen dan rubrik penilain pada LKPD STREAMS sesuai kompetensi yang dirumuskan. Dianjurkan guru bisa merancang soal asesmen berbasis literasi numerasi yang mempertajam kecakapan berpikir kritis murid.

  1. Dalam praktik penggunaan LKPD, guru menentukan waktu coaching/pendampingan (asesmen dalam proses belajar)  untuk mengetahui persentase proses belajarnya dalam menyelesaikan projek. Dalam proses coaching/pendampingan, guru bisa memantau perkembangan siswa baik dari segi karakter, psikomotorik, maupun kognitifnya dengan melontarkan beberapa pertanyaan lisan (fleksibel) dengan rubrik yang telah disiapkan. Di sinilah murid merasa bahwa pembelajaran itu menyenangkan sebab terjadinya proses umpan balik yang berkesinambungan pada dirinya atau disebut dengan membangun keberlanjutan.
  2. Guru meminta murid melakukan presentasi berkala untuk melihat  prototipe projek yang sedang disiapkan. Sekali lagi,   umpan balik menjadi hal wajib  untuk bahan laporan guru kepada orangtua tentang kemajuan belajar muridnya.  Selain itu, tujuan dari prototipe ini adalah sebagai upaya  melatih komunikasi murid.

Dari hasil proses pembelajaran yang saya lakukan dengan menggunakan pendekatan STREAMS ini, murid-murid mampu memiliki daya kreativitas, berpikir kritis, mempunyai nilai religius, dan memiliki kecakapan berkomunikasi berdasarkan data dari asesmen.  Kemudian murid dan orang tua memberikan refleksi terhadap proses belajar yang disajikan guru bahwa LKPD yang dipakai membuat dirinya tak jenuh belajar. Belajar dengan pendekatan interdisiplin ilmu merupakan proses belajarnya yang tak biasa didapatkannya alias anti-mainstream. Dalam satu asesmen bisa menggambarkan kompetensi mata pelajaran lainnya. Murid memahami bahwa penggunaan LKPD STREAMS menjadikan diri mereka menemukenali hubungan nilai-nilai karakter pada setiap mata pelajaran dan relevan terhadap kehidupan sehari-hari. Hasil pembelajaran ini dikuatkan dari hasil  penelitian oleh Toyibah, dkk (2024) bahwa penggunaan LKPD berbasis STEAM dalam pembelajaran kelas 4 SD materi tumbuhan dapat meningkatkan kemampuan proses ilmiah dan kreativitas murid. Kemudian Diah Mirawati, dkk (2023) mengungkapkan LKPD berbasis STEAM memberikan bekal berpikir kritis murid.

Daftar Pustaka

Agustina, T. W., Rustaman, N. Y., Riandi, & Purwianingsih, W. (2017). The Learning of Compost Practice in University. Journal of Physics: Conference Series, 895(1), 012128. https://doi.org/10.1088/1742-6596/895/1/012128

Darmanto J.T dan Sudharsono PH. 1986. Mencari Konsep Manusia Indonesia, 1986.

Fadilah, E. N., Syahriani, I., & Hudi, I. (2024). Pengaruh Kemajuan Teknologi terhadap Pemahaman Nilai Pancasila di Era Gen Z. Jurnal Pendidikan Tambusai8(1), 7361-7372.

Mirawati, D., Wijayanti, A., & Setianingsih, E. S. (2023). Keefektifan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berorientasi Life Skills Berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematic) Untuk Meningkatkan Life Skills Peserta Didik Kelas III SDN Rejosari 03. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang9(3), 1201-1209.

Toyibah, T., Sari, Y. Y., & Irdalisa, I. (2024). Pengembangan LKPD berbasis STEAMuntuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Pada Materi Tumbuhan Kelas IV Sekolah Dasar. Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan2(1), 31-45.

Popular Post